HOLOPIS.COM, JAKARTA – Jakarta berhasil menempati peringkat ke-53 dalam daftar 100 World’s Best Cities 2026 yang dirilis oleh perusahaan konsultan global Resonance Consultancy.
Pencapaian luar biasa ini membuat metropolitan terpadat kedua di dunia tersebut sukses mengungguli sejumlah kota besar dunia lainnya, termasuk Washington D.C., Abu Dhabi, Busan, dan Delhi.
Laporan resmi yang dirilis pada Jumat, 19 Juni 2026, tersebut secara unik menggambarkan Jakarta sebagai kota besar yang sedang tenggelam, namun proses itu belum selesai dan kota ini terus berbenah secara progresif.
Kekuatan utama Jakarta dalam pemeringkatan ini terletak pada pilar daya tarik kota atau lovability, di mana Resonance menempatkan Jakarta pada peringkat ke-28 dunia.
Penilaian tinggi pada pilar tersebut didorong oleh keberhasilan revitalisasi kawasan bersejarah Kota Tua, keindahan area rooftop di SCBD, serta pesona kawasan tepi laut Pantai Indah Kapuk.
Ruang publik yang semakin tertata, pusat hiburan, serta beragam pilihan rekreasi keluarga bahkan sukses membawa Jakarta menembus jajaran sepuluh besar dunia untuk kategori atraksi ramah keluarga dan belanja.
– Advertisement –
Daya tarik fisik ini juga tercermin kuat di ranah digital dengan keberhasilan Jakarta menduduki peringkat kesembilan dunia untuk unggahan Instagram dan peringkat kedelapan dunia untuk video TikTok.
Selain sektor pariwisata dan gaya hidup, laporan tersebut turut memuji peningkatan konektivitas sistem transportasi publik yang secara perlahan berhasil meredakan kemacetan ekstrem di Jakarta.
Integrasi moda transportasi seperti LRT Jabodebek yang semakin intensif, proyek MRT Jakarta Fase 2 menuju Kota, hingga keandalan kereta bandara menjadi faktor penentu kemudahan mobilitas warga.
Menariknya, pemeringkatan prestisius ini diperoleh tepat di tengah masa transisi hukum yang mengesahkan perpindahan status Ibu Kota Negara dari Jakarta ke Ibu Kota Nusantara di Kalimantan Timur.
Walau status ibu kota resmi berpindah, Resonance Consultancy menegaskan bahwa Jakarta akan tetap menjadi pusat gravitasi ekonomi utama bagi Indonesia berkat perputaran kapital yang sangat kuat.
Salah satu indikatornya adalah derasnya arus investasi teknologi, khususnya pembangunan kawasan pusat data raksasa di koridor Bekasi-Cikarang guna menunjang kebutuhan komputasi awan dan kecerdasan buatan.
Geliat ekonomi juga terlihat dari terus berlanjutnya pembangunan gedung perkantoran premium dan kawasan terpadu di pusat bisnis utama seperti Sudirman-Thamrin, Kuningan, serta TB Simatupang.
Pemeringkatan World’s Best Cities 2026 ini dirumuskan menggunakan metode Place Power Score yang mengevaluasi kota metropolitan berpenduduk di atas satu juta jiwa berdasarkan aspek kenyamanan hidup, daya tarik, dan kemakmuran ekonomi.
Evaluasi tersebut menggabungkan analisis puluhan metrik kinerja kota dengan hasil survei Ipsos terhadap lebih dari 21.000 responden di 31 negara mengenai destinasi terbaik untuk ditinggali, dikunjungi, dan bekerja.