JAKARTA – Umat Hindu di Indonesia pada Rabu, 17 Juni 2026 merayakan Hari Raya Galungan 1948 Saka, sebuah hari suci yang memiliki makna mendalam sebagai simbol kemenangan Dharma (kebenaran, kebajikan, dan kebijaksanaan) atas Adharma (kejahatan, keserakahan, dan ketidakbenaran).
Bagi umat Hindu, Galungan bukan sekadar perayaan keagamaan yang ditandai dengan berbagai ritual dan tradisi, melainkan momentum spiritual untuk melakukan refleksi diri, memperkuat keimanan, serta meneguhkan komitmen dalam menjalankan nilai-nilai kebenaran dalam kehidupan sehari-hari.
Hari Raya Galungan diperingati setiap 210 hari sekali berdasarkan kalender Bali atau sistem Pawukon. Perayaan ini menjadi salah satu hari besar terpenting dalam ajaran Hindu, khususnya bagi masyarakat Hindu di Bali dan berbagai daerah lain di Indonesia.
Secara filosofis, Galungan mengajarkan bahwa pertarungan antara Dharma dan Adharma bukan hanya terjadi dalam kehidupan sosial, tetapi juga berlangsung di dalam diri setiap manusia. Oleh karena itu, kemenangan yang dimaksud dalam perayaan Galungan bukan semata kemenangan fisik, melainkan kemenangan moral, spiritual, dan pengendalian diri.
Dalam berbagai lontar dan ajaran Hindu, Galungan dimaknai sebagai saat ketika umat diajak untuk menaklukkan sifat-sifat negatif seperti kesombongan, kemarahan, kebencian, keserakahan, serta berbagai perilaku yang menjauhkan manusia dari nilai-nilai kebajikan.
Tradisi Galungan juga identik dengan pemasangan penjor, yakni bambu melengkung yang dihias dengan janur, hasil bumi, dan berbagai ornamen khas Bali. Penjor tidak hanya menjadi simbol kemeriahan perayaan, tetapi juga melambangkan rasa syukur manusia atas anugerah Tuhan serta harmonisasi hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
– Advertisement –
Selain itu, umat Hindu melaksanakan persembahyangan bersama di pura maupun di lingkungan keluarga sebagai bentuk penghormatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta para leluhur yang diyakini turun memberikan berkah dan tuntunan spiritual pada momentum suci tersebut.
Dalam konteks kehidupan modern, nilai-nilai Galungan tetap relevan untuk dijadikan pedoman dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Di tengah derasnya arus informasi, polarisasi sosial, hingga berbagai persoalan moral yang berkembang, semangat kemenangan Dharma mengingatkan pentingnya menjaga integritas, kejujuran, toleransi, dan tanggung jawab sosial.
Perayaan Galungan juga menjadi pengingat bahwa kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik dan ekonomi, tetapi juga oleh kekuatan karakter, etika, serta kemampuan masyarakatnya dalam menjunjung nilai-nilai kebenaran.
Karena itu, makna Galungan sesungguhnya melampaui batas ritual keagamaan. Hari suci ini mengajarkan bahwa kemenangan sejati adalah ketika manusia mampu mengendalikan dirinya, menempatkan kebajikan di atas kepentingan pribadi, serta menjadikan kebenaran sebagai landasan dalam setiap tindakan.
Dengan semangat Galungan 2026, umat Hindu diharapkan semakin memperkokoh keimanan dan terus menghadirkan nilai Dharma dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Sebab pada akhirnya, kemenangan Dharma bukan hanya milik satu kelompok atau komunitas tertentu, melainkan menjadi harapan bersama bagi terciptanya kehidupan yang damai, adil, dan harmonis.