Gratis dan Terbuka untuk Umum! Begini Cara Ikut Kirab Malam 1 Suro Keraton Yogyakarta, Berani Coba?

YOGYAKARTA, Holopis.com – Tradisi sakral Malam 1 Suro di Keraton Yogyakarta kembali digelar. Gratis tanpa registrasi, masyarakat umum bisa ikut tapa bisu Mubeng Beteng.

Tradisi malam 1 Suro yang selalu menarik perhatian masyarakat kembali digelar di Yogyakarta tahun ini.

Lampah Budaya Mubeng Beteng dalam rangka memperingati Tahun Baru Jawa 1 Sura Be 1960 atau 1 Muharram 1448 Hijriah akan berlangsung pada Selasa malam, 16 Juni 2026, hingga Rabu dini hari, 17 Juni 2026.

Kegiatan yang identik dengan prosesi tapa bisu atau berjalan tanpa berbicara ini terbuka bagi masyarakat umum dan dapat diikuti secara gratis tanpa proses pendaftaran.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Dian Lakshmi Pratiwi.

“Kegiatan ini gratis, tidak ada registrasi, bebas tidak dipungut biaya bagi masyarakat umum yang akan mengikutinya,” ujar Dian dalam keterangan tertulisnya.

– Advertisement –

Tradisi Mubeng Beteng merupakan kegiatan berjalan kaki mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta dalam suasana hening, tertib, dan penuh kekhusyukan.

Setiap tahun, ribuan warga dari berbagai daerah datang untuk mengikuti tradisi yang telah menjadi bagian penting dari budaya Jawa tersebut.

Dian menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan merupakan Hajad Dalem atau hajatan resmi Keraton Yogyakarta.

Prosesi tersebut merupakan Hajad Kawula Dalem yang dilaksanakan oleh para abdi dalem dan difasilitasi oleh Dinas Kebudayaan DIY sebagai bentuk pelestarian budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Dalam filosofi Jawa, tapa bisu memiliki makna yang lebih dalam dibanding sekadar berjalan kaki.

Tradisi ini menjadi sarana introspeksi diri, pengendalian hawa nafsu, serta momentum untuk merenungkan perjalanan hidup selama setahun terakhir.

Peserta juga diajak untuk memanjatkan doa dan harapan agar memperoleh keselamatan, ketenteraman, kesehatan, serta keberkahan dalam menjalani tahun yang baru.

Karena itu, suasana selama prosesi berlangsung dijaga tetap tenang tanpa percakapan.

Bagi masyarakat yang ingin mengikuti kirab malam 1 Suro tersebut, caranya cukup mudah.

Peserta hanya perlu hadir sesuai jadwal yang telah ditentukan dan mematuhi seluruh tata tertib yang berlaku selama kegiatan berlangsung.

Berdasarkan informasi dari Dinas Kebudayaan DIY, peserta mulai dapat hadir di lokasi pada Selasa, 16 Juni 2026 pukul 20.00 WIB. .

Selanjutnya, acara akan diawali dengan pembacaan macapat yang berlangsung mulai pukul 21.00 hingga 23.00 WIB.

Setelah itu, prosesi pembukaan dilaksanakan pada pukul 23.00 hingga 23.30 WIB.

Rombongan peserta kemudian diberangkatkan untuk melakukan Mubeng Beteng pada pukul 23.30 WIB hingga menjelang pergantian hari.

Tradisi ini mencapai puncaknya saat dini hari yang ditandai dengan bunyi lonceng sebanyak 12 kali.

Bunyi lonceng tersebut menjadi simbol dimulainya perjalanan spiritual para peserta mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta.

Rute yang akan dilalui peserta dimulai dari Kagungan Dalem Kamandungan Lor atau Keben.

Selanjutnya peserta berjalan melewati Jalan Rotowijayan, Jalan Kauman, Jalan H Agus Salim, Jalan KH Wahid Hasyim, Jalan Suryowijayan, Jalan MT Haryono, Jalan Mayjend Sutoyo, Jalan Brigjen Katamso, Jalan Ibu Ruswa, Jalan Pekapalan Alun-alun Utara, dan kembali melalui Jalan Rotowijayan sebelum finis di Kamandungan Lor.

Panitia mengimbau seluruh peserta untuk mengenakan pakaian yang sopan dan rapi.

Selain itu, peserta juga diminta menjaga ketertiban selama kegiatan berlangsung serta tidak membawa atribut organisasi, komunitas, lembaga, maupun partai politik tertentu.

Tradisi Mubeng Beteng selama ini dikenal sebagai salah satu agenda budaya terbesar di Yogyakarta saat malam 1 Suro.

Ribuan orang biasanya memadati kawasan sekitar Keraton untuk mengikuti maupun menyaksikan langsung prosesi yang berlangsung dalam suasana sunyi namun sarat makna tersebut.

Bagi masyarakat yang ingin merasakan pengalaman berbeda sekaligus mengenal lebih dekat filosofi budaya Jawa, Lampah Budaya Mubeng Beteng bisa menjadi pilihan menarik.

Selain gratis dan terbuka untuk umum, tradisi ini juga menjadi kesempatan untuk melakukan refleksi diri dalam suasana malam pergantian Tahun Baru Jawa yang penuh nilai spiritual.

Leave a Comment