
JABAR EKSPRES – Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Bandung mencatat serapan pupuk bersubsidi hingga Mei 2026 baru mencapai sekitar 30 persen dari total alokasi yang tersedia.
Rendahnya penebusan pupuk tersebut diduga dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari petani yang menggunakan pupuk produksi sendiri hingga kekhawatiran terhadap kondisi cuaca.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung Ina Dewi Kania mengatakan, untuk tahun 2026 Kabupaten Bandung mendapatkan alokasi pupuk bersubsidi berupa 33.291 ton urea, 36.585 ton NPK dan 1.450 ton pupuk organik.
Baca Juga:Persetujuan POD Ronggolawe Dukung Strategi SAKA dalam Peningkatan ProduksiKekeringan Disertai Krisis Air Bersih Melanda Citeureup Bogor, 517 Jiwa Terdampak
“Kalau untuk tahun 2026, kita punya alokasi pupuk subsidi hanya tiga jenis, yaitu urea, NPK dan pupuk organik,” kata Ina, Kamis (11/6/2026).
Ia menjelaskan, berdasarkan data hingga akhir Mei, tingkat penyerapan pupuk subsidi rata-rata masih berada di angka 30 persen.
Menurutnya, kondisi tersebut belum bisa dijadikan indikator rendahnya minat petani karena kebutuhan pupuk biasanya meningkat pada musim tanam kedua.
“Sampai dengan bulan Mei, alokasi kita baru tercapai rata-rata di angka 30 persen serapannya,” ujarnya.
Ina menilai salah satu penyebab belum tingginya penebusan pupuk adalah sebagian petani mulai memanfaatkan pupuk hasil produksi sendiri sehingga tidak seluruh kuota pupuk bersubsidi ditebus.
“Yang pertama mungkin petani sudah bisa menggunakan pupuk hasilnya sendiri, sehingga mereka tidak menebus pupuk itu,” katanya.
Selain itu, faktor cuaca juga disebut mempengaruhi keputusan petani untuk mulai bercocok tanam.
Baca Juga:Di Bawah Terpal dan Tumpukan Daun Kering, Ribuan Motor BGN Senilai 1,3 Triliun Menanti Nasib di Sentul BogorOleng Saat Nyalip, Pelajar Tewas Terlindas Mobil di Ciampea Bogor
Prediksi kemarau panjang dan isu El Nino membuat sebagian petani memilih menunda masa tanam sehingga kebutuhan pupuk ikut tertunda.
“Ada kekhawatiran soal El Nino. Mereka takut tidak ada air, sehingga memilih menunda tanam. Itu mungkin juga yang mengurangi penebusan pupuk,” ungkap Ina.
Meski demikian, pihaknya optimistis angka serapan pupuk akan meningkat pada semester kedua tahun ini.
Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, kebutuhan pupuk biasanya melonjak menjelang musim tanam kedua yang berlangsung sekitar September hingga Oktober.
“Biasanya puncak pupuk itu ada di musim tanam kedua, yaitu bulan September-Oktober. Saat hujan mulai turun, petani lebih semangat untuk menanam sehingga kebutuhan pupuk meningkat,” tuturnya.