Parah Pisan, Serasa Rugi Berkali-kali! – jabarekspres.com

JABAR EKSPRES – Kenaikan harga BBM jenis Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter sejak 10 Juni 2026 membuat banyak pengguna kendaraan mengeluh. Salah satunya Syamsudin (41), warga Tasikmalaya yang mengaku terkejut dengan lonjakan harga yang mencapai hampir Rp4.000 per liter.

“Parah pisan, naekna teu kira-kira. Hampir empat ribu per liter,” keluh Syamsudin, Kamis (11/6/2026).

Pemilik mobil Xpander itu sehari-hari menggunakan Pertamax. Baginya, kenaikan harga tersebut langsung terasa di kantong. Jika sebelumnya uang Rp300 ribu bisa mendapatkan hampir 24 liter Pertamax, kini hanya cukup untuk sekitar 18 liter.

Baca Juga:Persetujuan POD Ronggolawe Dukung Strategi SAKA dalam Peningkatan ProduksiKekeringan Disertai Krisis Air Bersih Melanda Citeureup Bogor, 517 Jiwa Terdampak

“Serasa kehilangan enam liter. Uang sama, tapi bensinnya jauh berkurang,” ujarnya dengan nada kesal.

Kekecewaan Syamsudin bukan hanya soal kenaikan harga. Ia mengaku sebagai konsumen merasa dirugikan berkali-kali. Menurutnya, masyarakat sebelumnya sempat dihadapkan pada polemik kualitas Pertamax yang ramai diperbincangkan, sementara kini harus menerima kenaikan harga yang cukup tinggi.

“Serasa rugi berkali-kali. Dulu ada kasus Pertamax rasa Premium, sekarang harganya malah naik drastis. Kami sebagai konsumen yang jadi korban. Sudah bayar mahal, sekarang harus keluar uang lebih banyak lagi,” katanya.

Ia juga khawatir kenaikan harga BBM nonsubsidi akan merembet pada kenaikan harga kebutuhan pokok. Menurutnya, pengalaman selama ini menunjukkan harga barang biasanya ikut naik ketika biaya transportasi meningkat.

“Walaupun yang naik BBM nonsubsidi, nanti perlahan harga-harga lain ikut naik. Kalau sudah naik biasanya susah turun lagi,” ujarnya.

Kondisi serupa terlihat di sejumlah SPBU. Seorang petugas SPBU di kawasan Urug, Kecamatan Kawalu, mengaku penjualan Pertamax semakin lesu setelah harga naik.

“Sebelum naik juga sudah sepi, sekarang makin sepi lagi. Pembeli lebih banyak beralih ke Pertalite,” katanya.

Baca Juga:Di Bawah Terpal dan Tumpukan Daun Kering, Ribuan Motor BGN Senilai 1,3 Triliun Menanti Nasib di Sentul BogorOleng Saat Nyalip, Pelajar Tewas Terlindas Mobil di Ciampea Bogor

Pantauan di SPBU yang berada di perbatasan Kabupaten Tasikmalaya dan Kota Tasikmalaya itu menunjukkan antrean pembeli Pertamax jauh berkurang dibanding biasanya. Mayoritas kendaraan tampak memilih mengisi BBM jenis Pertalite.

Keresahan juga dirasakan pelaku usaha jasa pengiriman. Muhammad Azil (37), pengelola usaha pengiriman barang di Cintawana, Singaparna, mengaku waswas jika kenaikan harga BBM nantinya berdampak pada tarif pengiriman.

Leave a Comment