
JABAR EKSPRES Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax tidak hanya berdampak pada biaya transportasi masyarakat, tetapi juga berpotensi menekan daya beli warga jika berlangsung dalam jangka panjang.
Hal itu disampaikan Pengamat Ekonomi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI),Adib Sultan, menanggapi keluhan masyarakat atas penyesuaian harga Pertamax yang mulai dirasakan oleh para pekerja sektor informal hingga pelaku usaha kecil.
Menurut Adib, kenaikan harga energi memiliki efek berantai terhadap aktivitas ekonomi. Meskipun Pertamax merupakan BBM nonsubsidi yang umumnya digunakan kelompok masyarakat tertentu, dampaknya tetap dapat menjalar ke berbagai sektor karena berkaitan dengan biaya distribusi dan mobilitas.
Baca Juga:Oleng Saat Nyalip, Pelajar Tewas Terlindas Mobil di Ciampea BogorKecelakaan Maut Sepeda Motor di Cibinong Bogor, Pengendara dan Penumpang Tewas
“Ketika harga BBM naik, maka biaya transportasi dan logistik ikut meningkat. Pada akhirnya sebagian pelaku usaha akan menyesuaikan harga barang atau jasa untuk menutupi kenaikan biaya operasional tersebut,” ujar Adib saat dikonfirmasi, Rabu (10/6).
Ia menjelaskan, kelompok yang paling rentan terdampak adalah pekerja yang mengandalkan kendaraan untuk mencari penghasilan harian, seperti pengemudi ojek online, kurir, hingga pelaku usaha mikro yang melakukan distribusi barang secara mandiri.
“Pendapatan mereka relatif tetap, sementara biaya operasional bertambah. Kondisi ini menyebabkan margin keuntungan menyusut dan secara langsung memengaruhi daya beli rumah tangga,” katanya.
Adib menilai, dampak kenaikan Pertamax terhadap inflasi memang tidak akan sebesar kenaikan BBM subsidi. Namun, pemerintah tetap perlu mewaspadai efek psikologis di masyarakat yang dapat memengaruhi pola konsumsi.
“Yang perlu diperhatikan adalah ekspektasi masyarakat. Ketika harga BBM naik, biasanya muncul kekhawatiran harga-harga lain juga akan ikut naik. Ini bisa membuat masyarakat lebih menahan konsumsi, padahal konsumsi rumah tangga merupakan salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.
Menurut Adib, kondisi tersebut perlu diantisipasi dengan menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dan memastikan distribusi barang tetap berjalan lancar agar tidak terjadi lonjakan harga yang tidak terkendali.
Ia juga menyoroti pentingnya komunikasi kebijakan kepada masyarakat. Menurutnya, setiap penyesuaian harga BBM sebaiknya disertai sosialisasi yang jelas agar tidak menimbulkan kebingungan maupun spekulasi di tengah masyarakat.