Swasembada Jagung di KBB, Polres Cimahi Catat Panen 377,5 Ton dari 334,5 Hektare – jabarekspres.com

JABAR EKSPRES – Upaya mendukung ketahanan pangan nasional kembali digerakkan Polres Cimahi lewat pemanfaatan lahan tidur di Kabupaten Bandung Barat (KBB). Dari lahan yang sebelumnya tidak produktif, jutaan batang jagung hibrida kini mulai dipanen oleh warga dan kelompok tani setempat.

Program swasembada jagung yang digarap Polres Cimahi itu menargetkan lahan seluas 1.700 hektare dengan proyeksi produksi mencapai 2.500 ton jagung yang diserap Bulog. Target tersebut menjadi salah satu langkah konkret aparat kepolisian dalam mendorong sektor pangan sekaligus memperkuat ekonomi petani di daerah.

Kapolres Cimahi, AKBP Niko N. Adi Putra, mengatakan hingga Juni 2026 capaian program ini terbilang positif. Dari total lahan yang ditanami, sebanyak 334,50 hektare telah menghasilkan panen jagung sebanyak 377,5 ton. Dari jumlah itu, Bulog telah menyerap 165 ton jagung yang memenuhi standar, yakni kadar air di bawah 14 persen dan antitoksin di bawah 50 ppb.

Baca Juga:Dana BGN Mandek, 40 Dapur MBG di Bandung Barat Berhenti BeroperasiASN dan PPPK Diberi Ruang Ikut Kontestasi BPD di Bandung Barat!

“Polri hadir untuk berkontribusi langsung pada program strategis pemerintah. Lewat panen raya ini, kita ingin ekonomi petani bergerak naik,” kata AKBP Niko, Rabu (10/6/26).

Untuk memastikan hasil panen terus meningkat, Polres Cimahi juga ikut memfasilitasi petani dengan sejumlah bantuan alat dan kebutuhan produksi. Bantuan itu antara lain traktor bajak, pupuk NPK, hingga bibit unggul hibrida.

“Tentunya kami juga memberikan bantuan, sebagai langkah dukungan agar meningkatkan produksi panen jagung. Semua bantuan yang kita berikan harus dimanfaatkan sebaik mungkin,” ujarnya.

Di sisi lain, para petani yang terlibat dalam program ini mulai merasakan manfaat langsung. Ita Sumitra (60), salah seorang petani jagung di Desa Kanangasari, Kecamatan Cikalongwetan, mengaku kembali produktif setelah mengikuti program tersebut.

Ia bersama puluhan petani lain sudah sekitar empat bulan mengelola tanaman jagung di lahan perbukitan yang sebelumnya ditanami tanaman keras.

“Sudah 4 bulanan, sebelumnya ya serabutan. Jadi sebelum ikut bertani, ada pelatihan dulu. Untuk menanam jagung saya pribadi baru sekarang,” kata Ita.

Program ini menjadi salah satu contoh bagaimana lahan yang semula tidak produktif dapat dihidupkan kembali untuk menopang kebutuhan pangan, sekaligus membuka ruang kerja dan pendapatan baru bagi warga desa. (Mong)

Leave a Comment