Di Tengah Pupuk Langka dan Ancaman El Nino Ekstrem, Petani Tasikmalaya Bertaruh pada Harapan – jabarekspres.com

JABAR EKSPRES – Matahari mulai meninggi ketika seorang petani bernama Mukhlis (68) berjalan menyusuri pematang sawah di Kampung Rancabeureum, Desa Linggaraja, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Tasikmalaya.

Hamparan lahan yang biasanya menghadirkan harapan kini justru memunculkan kegelisahan. Bukan hanya karena cuaca yang tak menentu, tetapi juga akibat pupuk yang semakin sulit diperoleh dan pasokan air yang mulai berkurang dari saluran irigasi.

Di tengah berbagai peringatan mengenai potensi kemarau panjang akibat fenomena El Nino yang diprediksi lebih ekstrem tahun ini, para petani padi di Tasikmalaya justru tengah berjuang menghadapi persoalan yang lebih nyata: bagaimana bisa menanam dengan baik jika pupuk dan air semakin sulit didapatkan.

Baca Juga:Rumah Dadan Hindayana di Sentul Ternyata Sudah Disewa Tiga Bulan, Security Sebut Kerap Digunakan untuk RapatRumah Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Digeledah Kejagung, Petugas Bersenjata Laras Panjang Turun ke Sentul

“Buat kami sekarang yang paling terasa itu pupuk. Sudah beberapa kali ke agen, stoknya sering habis. Ditanya kapan datang lagi, jawabannya tidak pasti karena pengiriman dari distributor juga tidak menentu,” kata Mukhlis, Selasa (9/6/2026).

Perjalanan mencari pupuk bukan perkara mudah bagi petani di wilayah perkampungan. Jarak menuju kios resmi cukup jauh, sementara kondisi jalan di sejumlah titik masih rusak. Tak jarang petani harus mengeluarkan biaya tambahan hanya untuk mencari pupuk yang pada akhirnya belum tentu tersedia.

“Agen pupuk sulit dihubungi lewat telepon, jarang diangkat. Jadi kadang sudah jauh-jauh datang ke agen, ternyata pupuknya tidak ada. Waktu habis, biaya keluar, tapi pulang tangan kosong,” ujarnya.

Kelangkaan pupuk membuat banyak petani terpaksa mengurangi dosis pemupukan. Jika biasanya mereka menggunakan kombinasi Urea dan Phonska, kini sebagian hanya mengandalkan Urea dalam jumlah terbatas karena Phonska kerap tidak tersedia.

Padahal, bagi petani, pupuk bukan sekadar kebutuhan tambahan. Ketersediaannya sangat menentukan produktivitas tanaman hingga masa panen nanti.

“Kalau pupuknya tidak lengkap, hasilnya pasti berpengaruh. Banyak teman-teman petani sekarang hanya memakai Urea karena Phonska kosong. Kami khawatir hasil panennya tidak maksimal,” katanya.

Belum selesai dengan persoalan pupuk, petani juga menghadapi masalah lain yang tak kalah pelik, yakni semakin langkanya tenaga kerja pertanian.

Baca Juga:Usai Kepastian Hukum, Farhan Ajak Semua Pihak Fokus Bangun BandungPemotor Tewas Usai Tabrak Truk Mogok di Gunung Putri Bogor

Pemandangan yang dulu lazim terlihat di kampung-kampung pertanian kini mulai berubah. Banyak tenaga kerja muda memilih merantau ke kota dibandingkan bekerja di sawah.

Leave a Comment