Jalan Sempit, Keterbatasan Anggaran dan Ego Sektoral Jadi Tantangan Transportasi Massal di Cekungan Bandung  – jabarekspres.com

JABAR EKSPRES – Rencana pengembangan BRT dan revitalisasi kereta komuter di Cekungan Bandung dinilai masih terkendala persoalan infrastruktur, regulasi, dan pendanaan.

Persoalan utama tersebut terletak pada kesenjangan antara pesatnya perkembangan kawasan dan lambatnya penyediaan sistem transportasi massal.

Diketahui, Cekungan Bandung masuk dalam kategori wilayah metropolitan, yang mencakup sejumlah daerah di antaranya Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, serta Kabupaten Sumedang.

Baca Juga:Pemkab Tasikmalaya Jajaki Kerjasama dengan Kementerian Perkuat Pengelolaan SampahDiduga Korsleting Listrik, isi Rumah Dua Lantai di Cileungsi Bogor Ludes Terbakar

Adapun Jaringan BRT ( _Bus Rapid Transit_ ) Cekungan Bandung, dirancang secara komprehensif dengan total panjang layanan 684 km, jalur khusus sepanjang 21 km, serta didukung oleh 34 stasiun BRT dan 719 bus stop.

Sistem ini nantinya akan mengoperasikan 478 unit bus listrik yang melayani 18 rute utama. Koridor-koridor tersebut mengoneksikan titik-titik krusial seperti rute Cibiru – Kalapa, Lembang – Kalapa, Leuwipanjang – Dipatiukur – Dago, Elang – Riau, Ciroyom – Antapani – Pajajaran, hingga Cibaduyut – Leuwipanjang – Dago.

Selain itu, jaringan ini juga menjangkau wilayah penyangga melalui rute Padalarang – Alun-alun Bandung, Cimahi – Cicaheum, Ledeng – Antapani, Cicaheum – Kalapa via Binong, Tegalluar – St. Hall, Soreang – Terminal Tegalega, Jatinangor – Cibeureum, Majalaya – Baleendah – Leuwipanjang, Banjaran – Baleendah – BEC, Sarijadi – Antapani, Cicaheum – Sarijadi, serta Jatinangor – Dipatiukur via Tol.

Pengembangan infrastruktur BRT di Wilayah Cekungan Bandung dilakukan secara terintegrasi, tidak hanya menyangkut jalur khusus dan stasiun BRT, tetapi juga fasilitas operasional seperti depo dan terminal.

Untuk menjamin efisiensi layanan, koridor utama diperkuat dengan titik pemberhentian berupa _bus stop_ dan halte _off-corridor_ .

Selain itu, aspek manajemen lalu lintas modern turut diintegrasikan melalui penerapan _Intelligent Transport System_ (ITS) dan _Area Traffic Control System_ (ATCS).

Guna mendukung ekosistem transportasi yang berkelanjutan, proyek ini juga melengkapinya dengan penyediaan fasilitas transportasi tidak bermotor ( _non-motorized transport_ ).

Baca Juga:BULOG Pastikan Harga Beras Stabil, Lebih dari 500 Ribu KPM Sudah Terima Bantuan PanganMonte Equipment Ramaikan IndoFest 2026, Brand Outdoor Asal Bandung Tawarkan Carrier Viral Harga Rp400 Ribuan

Mengenai hal itu, Pengamat Transportasi, Djoko Setijowarno menyoroti pembangunan infrastruktur dalam menunjang mobilitas harian masyarakat di area Cekungan Bandung.

“Tentu ada tantangan yang kompleks. Berdasarkan karakteristik tata ruang, demografi, dan kondisi eksisting di lapangan, pengembangan transportasi umum massal,” kata Djoko kepada Jabar Ekspres, Senin (8/6/2026).

Leave a Comment