Gokil! Ratusan Siswa SMAN 1 Cimahi Kompak Garap Drama Musikal Sekelas Produksi Film di Festival Sachi – jabarekspres.com

Riuh tepuk tangan dan gelak tawa memenuhi aula SMAN 1 Cimahi saat Festival Musikal Sachi digelar meriah. Pertunjukan drama musikal yang dibawakan para siswa kelas XI itu sukses mencuri perhatian penonton, mulai dari orang tua, guru, hingga teman-teman sekolah yang larut menikmati setiap adegan penuh energi dan kreativitas di atas panggung.

Di Festival Musikal Sachi, drama musikal menjadi wujud nyata Projek Kokurikuler dalam Kurikulum Merdeka. Berangkat dari pelajaran Bahasa Indonesia sebagai poros utama, proyek ini lalu dirangkai melalui kolaborasi tujuh mata pelajaran lain, Bahasa Sunda, Bahasa Indonesia, Seni Budaya, PKN, Sejarah, TIK, dan PKWU, hingga lahirlah pertunjukan yang hidup, kreatif, dan penuh kerja sama di kelas.

Festival musikal ini akan berlangsung selama empat hari, mulai 18 hingga 21 Mei 2026 mendatang. Sejumlah penampilan, kolaborasi kreatif, hingga suguhan hiburan bernuansa edukatif telah dipersiapkan untuk memeriahkan acara. Digelar hingga Kamis nanti, festival ini diharapkan menjadi ruang ekspresi sekaligus pengalaman berkesan bagi para peserta dan penonton yang hadir.

Baca Juga:Pengantin Pria di Garut Diciduk Polisi Usai Akad, Diduga Pelaku Curanmor di IbunBLF MC Resmi Go Digital, Komunitas Moge Ini Siap Naik Kelas Secara Profesional

Guru Seni Budaya SMAN 1 Cimahi sekaligus Koordinator Projek Kokurikuler Drama Musikal kelas XI, Annisa Resti Fauziah, mengatakan proyek ini mengusung tema kesejarahan. Selama semester dua, setiap mata pelajaran diarahkan untuk mendukung proyek akhir tersebut.

Seluruh materi pembelajaran disinergikan agar siswa bisa merangkai pengetahuan mereka ke dalam pertunjukan drama musikal yang utuh, bermakna, dan hidup.

Annisa mencontohkan, dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda, siswa diminta menyusun naskah sendiri dengan tema sejarah yang sudah ditentukan. Ada tiga tema, yakni proklamasi dan kemerdekaan.

Melalui tugas itu, anak-anak dilatih memahami materi sekaligus menulis dengan sudut pandang mereka sendiri, sehingga proses belajar terasa lebih kontekstual, kreatif, dan dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari di kelas.

“Nah, di situ dari temanya itu mereka mengolah sendiri naskahnya, sambil menyisipkan kebudayaan. Kebudayaannya bisa berupa tarian, terus juga di naskahnya sendiri diwajibkan ada yang namanya sisindiran atau bertukar pantun,” terang Annisa saat diwawancarai Jabar Ekspres di sekolah, Senin (18/5/26).

Menurut Annisa, penggunaan Bahasa Sunda dalam pembelajaran sisindiran sengaja diterapkan agar para murid tetap mengenal budaya daerahnya sendiri. Ia ingin anak-anak didiknya tak hanya memahami materi pelajaran, tetapi juga tumbuh dengan kedekatan terhadap tradisi dan kekayaan budaya Sunda yang menjadi bagian dari identitas mereka sehari-hari.

Leave a Comment