JAKARTA – Ibadah kurban saat Idul Adha selalu identik dengan pahala, ketakwaan, dan semangat berbagi kepada sesama. Namun siapa sangka, ibadah yang tampak mulia ini justru bisa berubah menjadi dosa apabila dilakukan dengan cara yang salah.
Islam tidak hanya mengatur soal menyembelih hewan, tetapi juga niat, cara memperoleh hewan, perlakuan terhadap hewan, hingga bagaimana kurban itu dijalankan secara benar dan penuh keikhlasan.
– Advertisement –
Bahkan dalam sejumlah hadis, Rasulullah SAW memberikan peringatan keras agar ibadah kurban tidak berubah menjadi ajang kesombongan, penyiksaan hewan, ataupun pelanggaran syariat.
Berikut beberapa kesalahan dalam berkurban yang justru bisa menyeret pelakunya pada dosa besar.
– Advertisement –
1. Berkurban Bukan Karena Allah, Tapi Demi Pencitraan Sosial
Ini salah satu penyakit paling halus sekaligus paling berbahaya dalam ibadah kurban: riya atau pamer amal.
Ada orang yang berkurban bukan semata karena ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT, tetapi demi mendapat pujian, pengakuan sosial, pencitraan politik, atau agar dianggap dermawan oleh masyarakat.
Mulai dari memasang baliho raksasa, membuat konten berlebihan, hingga memastikan semua orang tahu berapa ekor sapi yang ia potong.
Padahal Rasulullah SAW sudah mengingatkan:
“Sesungguhnya amal itu tergantung niat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Allah SWT juga memberi ancaman keras kepada orang-orang yang beribadah karena riya:
“Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang berbuat riya.”
(QS. Al-Ma’un: 4–6)
Kurban yang awalnya ibadah bisa berubah menjadi alat menaikkan derajat sosial. Secara lahiriah tampak beramal, tetapi batinnya sedang mencari tepuk tangan manusia.
2. Cari Hewan Murah, Tapi Abai Syarat Sah Kurban
Fenomena lain yang sering terjadi adalah berburu hewan termurah tanpa peduli syarat sah kurban.
Yang penting harga miring, urusan cacat belakangan.
Padahal Islam sangat jelas melarang hewan kurban yang:
- sakit,
- pincang,
- buta,
- terlalu kurus, atau
- cacat berat.
Rasulullah SAW bersabda:
“Ada empat cacat yang tidak boleh pada hewan kurban: buta sebelah yang jelas, sakit yang jelas, pincang yang jelas, dan sangat kurus.”
(HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i)
Ironisnya, ada orang rela membeli gadget mahal, tetapi ketika kurban justru mencari hewan yang “asal sah” atau bahkan tidak memenuhi syarat.
Padahal Allah SWT berfirman:
“Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.”
(QS. Ali Imran: 92)
Kurban bukan tentang siapa paling murah, tetapi tentang ketakwaan dan keikhlasan memberikan yang terbaik.
3. Kurban dari Uang Haram atau Hasil Korupsi
Ada pula orang yang rajin berkurban setiap tahun, tetapi sumber uangnya berasal dari hasil korupsi, suap, manipulasi proyek, judi, riba, atau menzalimi hak orang lain.
Secara fikih hewannya mungkin sah disembelih, tetapi nilai ibadahnya bisa runtuh karena hartanya tidak halal.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik.”
(HR. Muslim)
Kurban bukan alat pencuci dosa sosial atau pencitraan moral setelah menumpuk kekayaan haram.
Tidak sedikit orang merasa cukup “membersihkan nama” dengan membagi-bagikan sapi kurban besar, sementara hak rakyat, pegawai, atau orang kecil justru ia rampas.
4. Menyembelih dengan Pisau Tumpul dan Menyiksa Hewan
Banyak orang fokus pada seremoni kurban, tetapi lupa bahwa Islam sangat ketat dalam urusan perlakuan terhadap hewan.
Rasulullah SAW memerintahkan agar hewan disembelih dengan cara paling baik dan paling minim rasa sakit.
“Jika kalian menyembelih maka sembelihlah dengan baik. Tajamkan pisaunya dan tenangkan hewan sembelihan.”
(HR. Muslim)
Namun praktik di lapangan kadang justru memprihatinkan:
- pisau tidak tajam,
- hewan diseret,
- dipukul,
- diinjak,
- bahkan ada yang membanting sapi dengan merusak kaki atau persendiannya agar mudah roboh.
Padahal tindakan seperti itu termasuk bentuk kezaliman terhadap hewan.
Islam tidak mengajarkan kekerasan brutal atas nama ibadah.
Kurban seharusnya menjadi simbol kasih sayang, ketakwaan, dan penghormatan terhadap makhluk Allah, bukan tontonan penyiksaan massal.
5. Menjual Bagian Hewan Kurban untuk Kepentingan Pribadi
Kulit, kepala, atau bagian lain dari hewan kurban tidak boleh dijadikan alat bisnis pribadi panitia.
Rasulullah SAW melarang memberikan bagian hewan kurban sebagai upah jagal.
“Rasulullah memerintahkanku mengurus kurban beliau dan tidak memberikan sesuatu pun dari bagian kurban kepada tukang jagal sebagai upah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kalau panitia ingin memberi honor, maka harus dari uang terpisah, bukan “mengambil jatah” dari hewan kurban.
6. Lupa Bahwa Kurban Itu Tentang Kepedulian Sosial
Ada yang menjadikan kurban hanya sebagai ritual tahunan tanpa kepedulian sosial.
Daging dibagikan hanya kepada lingkaran dekat, keluarga kaya, atau kelompok tertentu, sementara warga miskin sekitar justru tidak kebagian.
Padahal Al-Qur’an memerintahkan:
“Makanlah sebagian darinya dan berikanlah kepada orang yang sengsara lagi fakir.”
(QS. Al-Hajj: 28)
Hakikat kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi menyembelih egoisme, kerakusan, dan ketidakpedulian terhadap sesama.
Kurban Bukan Ajang Pamer, Tapi Ujian Ketakwaan
Allah SWT menegaskan bahwa yang sampai kepada-Nya bukan darah atau daging hewan, melainkan ketakwaan manusia.
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”
(QS. Al-Hajj: 37)
Karena itu, Idul Adha seharusnya menjadi momentum introspeksi:
apakah kita benar-benar berkurban karena Allah, atau hanya sedang mempertontonkan status sosial di hadapan manusia?
Sebab bisa jadi sapi yang disembelih bernilai puluhan juta rupiah, tetapi niat yang rusak justru membuat amalnya tak bernilai di sisi Allah SWT.
– Advertisement –