JAKARTA, HOLOPIS.COM – Rupiah menembus Rp17.600 per dolar AS dan memicu kekhawatiran kenaikan harga BBM. Pakar ekonomi menyebut efek domino ke impor dan energi nasional.
Nilai tukar rupiah kembali jadi sorotan setelah dilaporkan melemah hingga menembus Rp17.600 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pertengahan Mei 2026.
Kondisi ini langsung memunculkan kekhawatiran akan dampaknya ke harga-harga di dalam negeri, terutama barang impor dan BBM nonsubsidi.
Pelemahan rupiah ini dinilai bukan sekadar angka di pasar uang.
Soalnya, banyak kebutuhan Indonesia masih bergantung pada impor, terutama di sektor energi.
Pakar ekonomi dan bisnis Universitas Hasanuddin, Hamid Paddu, menjelaskan pelemahan rupiah otomatis membuat biaya impor ikut naik karena transaksi internasional menggunakan dolar AS.
– Advertisement –
“Kalau rupiah melemah, biaya impor pasti naik. Karena kita bayarnya pakai dolar,” kata Hamid, Sabtu (16/5/2026).
Kondisi ini jadi semakin berat karena Indonesia masih mengimpor sebagian besar kebutuhan minyak.
Konsumsi nasional disebut mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi dalam negeri hanya sekitar 650 ribu barel per hari.
Artinya, lebih dari separuh kebutuhan masih dipenuhi dari luar negeri.
Selain itu, tekanan juga datang dari harga minyak dunia yang saat ini berada di kisaran 105 dolar AS per barel.
Angka ini jauh di atas asumsi APBN 2026 yang dipatok sekitar 70 dolar AS per barel.
“Jadi bebannya dobel, dari harga minyak dan dari nilai tukar,” jelas Hamid.
Kombinasi dua faktor ini membuat biaya impor energi semakin mahal.
Dalam kondisi seperti ini, harga BBM nonsubsidi disebut berpotensi ikut menyesuaikan karena mengikuti mekanisme pasar.
Menurut Hamid, penyesuaian harga BBM nonsubsidi sebenarnya merupakan hal yang wajar.
Sebab, harga jenis BBM tersebut memang mengikuti harga minyak dunia dan kurs rupiah.
“Kalau biaya naik, ya harga jual ikut menyesuaikan. Itu mekanisme pasar,” ujarnya.
Di sisi lain, asumsi pemerintah dalam APBN 2026 masih berada di level Rp16.500 per dolar AS.
Dengan realisasi yang sudah jauh di atas itu, tekanan terhadap sektor energi pun makin terasa.
Meski begitu, Hamid menilai masyarakat saat ini sudah lebih terbiasa dengan dinamika harga BBM nonsubsidi.
Perubahan harga tidak lagi menimbulkan gejolak besar seperti dulu.
“Sekarang masyarakat sudah paham kalau BBM nonsubsidi itu mengikuti pasar,” katanya.
Dengan kondisi rupiah yang terus tertekan, efek lanjutan diperkirakan bisa merembet ke berbagai sektor lain.
Mulai dari harga barang impor, biaya produksi, hingga ongkos logistik.
Situasi ini membuat pelaku pasar dan pemerintah perlu lebih waspada agar tekanan tidak semakin meluas ke ekonomi sehari-hari masyarakat.