HOLOPIS.COM, JAKARTA – Setiap 16 Mei, dunia memperingati Hari Cahaya Internasional atau International Day of Light. Peringatan itu jadi momentum global yang menyoroti pentingnya cahaya dan teknologi berbasis cahaya dalam kehidupan manusia.
Peringatan ini diinisiasi oleh UNESCO untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dunia terhadap peran cahaya dalam sains, pendidikan, kesehatan, energi. Selain itu, komunikasi hingga pembangunan berkelanjutan.
Menurut UNESCO, Hari Cahaya Internasional pertama kali diperingati pada 2018 setelah ditetapkan pada Sidang Umum UNESCO tahun 2017. Tanggal 16 Mei dipilih untuk mengenang keberhasilan ilmuwan dan insinyur asal Amerika Serikat (AS), Theodore Maiman, dalam mengoperasikan laser pertama pada 1960.
UNESCO menyatakan peringatan ini menjadi simbol bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi cahaya mampu memberikan dampak besar bagi perkembangan peradaban manusia modern.
“Hari Cahaya Internasional yang diproklamasikan UNESCO, menyoroti peran fundamental teknologi berbasis cahaya dalam memajukan sains, inovasi, dan kerja sama internasional,” tulis laman UNESCO, dikutip pada Sabtu, (16/5/2026).
UNESCO menyampaikan di antara teknologi itu, sumber cahaya canggih memainkan peran penting dalam memungkinkan penemuan ilmiah dan kemajuan teknologi di berbagai bidang.
– Advertisement –
“Termasuk kesehatan, pertanian, energi, ilmu lingkungan, dan penelitian material. Di luar aplikasi ilmiahnya, infrastruktur ini juga berkontribusi pada pembangunan kapasitas, pertukaran pengetahuan,” jelas UNESCO.
Pun, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga menegaskan cahaya memiliki kontribusi besar terhadap kehidupan masyarakat global. Teknologi berbasis cahaya kini digunakan dalam berbagai sektor penting, mulai dari internet berbasis serat optik, layanan kesehatan, energi ramah lingkungan, hingga eksplorasi luar angkasa.
PBB melalui laman resminya menyebutkan bahwa Hari Cahaya Internasional jadi ajang untuk perkuat kerja sama ilmiah. Selain itu, untuk mendorong pemanfaatan teknologi cahaya guna menjawab tantangan global.
“Teknologi berbasis cahaya mendorong pembangunan berkelanjutan dan memberikan solusi untuk tantangan global di bidang energi, pendidikan, pertanian, dan kesehatan,” tulis PBB.
Selain itu, UNESCO juga menyoroti bahwa cahaya bukan hanya berkaitan dengan teknologi dan sains. Namun, juga memiliki keterkaitan erat dengan budaya, seni, serta kehidupan sosial masyarakat di berbagai negara.
Peringatan ini turut melibatkan berbagai institusi pendidikan, komunitas ilmiah, pusat riset, hingga organisasi internasional yang menggelar seminar, diskusi publik, pameran sains terkait pentingnya cahaya dalam kehidupan sehari-hari.
Lembaga sains internasional di bawah naungan UNESCO dan PBB, International Centre for Theoretical Physics (ICTP), menyebut Hari Cahaya Internasional lahir sebagai kelanjutan dari kesuksesan International Year of Light 2015 yang sebelumnya mendapat perhatian besar dari komunitas global.
Menurut ICTP, peringatan itu bertujuan memperluas pemahaman masyarakat terhadap pentingnya fotonik dan teknologi cahaya dalam mendukung inovasi masa depan.
Sementara itu, Komisi Eropa menilai teknologi berbasis cahaya menjadi salah satu fondasi penting bagi transformasi digital dan ekonomi modern.
Teknologi fotonik dinilai memiliki peran strategis dalam pengembangan komunikasi data, kecerdasan buatan, perangkat medis, hingga energi berkelanjutan.
Hari Cahaya Internasional kini diperingati di berbagai negara melalui kegiatan edukatif dan ilmiah yang melibatkan pelajar, akademisi, peneliti, serta masyarakat umum.
Momentum itu sekaligus sebagai pengingat bahwa cahaya tak hanya menerangi kehidupan manusia secara fisik. Namun, juga menjadi simbol pengetahuan, inovasi, dan harapan bagi masa depan dunia.