UNICEF : Puluhan Anak Jadi Korban Meski Lebanon dan Israel Gencatan Senjata

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Situasi anak-anak di Lebanon dilaporkan semakin memprihatinkan meski gencatan senjata telah diberlakukan. Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNICEF menyebut puluhan anak masih menjadi korban dalam sepekan terakhir akibat eskalasi konflik yang belum benar-benar mereda.

Dalam laporan terbaru pada Rabu (13/5), UNICEF mengungkap sedikitnya 59 anak tewas atau mengalami luka-luka hanya dalam satu minggu terakhir.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Lebanon, sejak gencatan senjata mulai berlaku pada pertengahan April, sedikitnya 23 anak dilaporkan meninggal dunia dan 93 lainnya terluka.

Sementara itu, sejak konflik kembali memanas pada 2 Maret lalu, total korban anak-anak disebut telah mencapai 200 orang tewas dan 806 lainnya terluka.

Di hari yang sama, otoritas Lebanon juga melaporkan sedikitnya 33 orang, termasuk perempuan dan anak-anak, tewas akibat serangan Israel di wilayah selatan dan tengah Lebanon.

Direktur Regional UNICEF untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, Edouard Beigbeder, mengatakan kondisi ini sangat memprihatinkan karena anak-anak seharusnya sudah kembali menjalani kehidupan normal setelah adanya kesepakatan gencatan senjata.

– Advertisement –

“Anak-anak tewas dan terluka ketika mereka seharusnya kembali ke ruang kelas, bermain bersama teman-teman, dan pulih dari ketakutan serta kekacauan yang telah berlangsung berbulan-bulan,” kata Beigbeder, dikutip Holopis.com (13/5).

Ia menambahkan bahwa meski gencatan senjata dimaksudkan untuk menghentikan kekerasan, banyak anak di Lebanon justru masih hidup dalam ketakutan dan trauma akibat serangan yang terus berulang.

UNICEF juga memperingatkan dampak psikologis yang kini semakin besar terhadap anak-anak dan keluarga mereka.

Lebih dari 770 ribu anak di Lebanon disebut mengalami tekanan mental akibat terus-menerus terpapar kekerasan, pengungsian, dan kehilangan anggota keluarga.

Gejala yang banyak dialami antara lain rasa takut berlebihan, kecemasan, mimpi buruk, insomnia, hingga perasaan putus asa.

UNICEF menilai trauma berkepanjangan tersebut bisa memberi dampak jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak-anak jika situasi keamanan tidak segera membaik.

Leave a Comment