HOLOPIS.COM, KINTAMANI — Wajah pariwisata dan konservasi di kawasan Kintamani bersiap memasuki era baru. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali secara resmi memulai langkah besar melalui kegiatan Konsolidasi Para Pihak bertajuk “The New Kintamani” yang digelar di Aula Museum Geopark Batur, Kabupaten Bangli, Jumat (8/5).
Forum ini menjadi titik balik penting dalam menyatukan visi 46 pemangku kepentingan. Peserta yang hadir mulai dari unsur pemerintah, desa adat, hingga komunitas penyedia jasa wisata seperti pengemudi ojek dan pelaku jeep wisata.
Konsep “The New Kintamani” hadir sebagai jawaban atas sembilan isu strategis yang selama ini menjadi tantangan di kawasan tersebut. Secara spesifik, penataan difokuskan pada kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Batur Bukit Payang dan TWA Penelokan.
Isu-isu krusial yang dibahas mencakup penataan aktivitas jeep wisata yang kian masif serta pengaturan jalur pendakian. Selain itu, penertiban bangunan di dalam kawasan dan optimalisasi PNBP juga menjadi prioritas utama.
– Advertisement –
Melalui pendekatan adaptif, BKSDA Bali berupaya menyelaraskan denyut ekonomi pariwisata dengan perlindungan bentang alam yang lestari. Upaya ini juga mencakup pembukaan objek wisata baru yang tetap mengacu pada kaidah konservasi ketat.
Kepala Balai KSDA Bali, Ratna Hendratmoko, menegaskan bahwa transformasi ini tidak bisa dilakukan secara sepihak. Ia menyatakan perlunya merangkul semua elemen masyarakat yang menggantungkan hidup pada alam Batur.
Ratna menekankan pentingnya pengelolaan yang modern namun tetap menghargai akar budaya lokal. Visi ini bertujuan untuk memastikan nilai-nilai lingkungan tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.
“Pengelolaan kawasan konservasi di Kintamani harus dilaksanakan secara adaptif dan kolaboratif, yaitu pengelolaan bentang alam yang mendukung kegiatan pariwisata yang sesuai dengan nilai konservasi,” ujar Ratna Hendratmoko.
Ia menambahkan bahwa sistem ini harus didukung oleh para pihak agar mampu memberikan manfaat yang adil. Keberlanjutan bagi masyarakat serta daerah menjadi target akhir dari usulan konsep tersebut.
Inisiatif ini pun disambut baik oleh berbagai elemen, termasuk pengelola Museum Geopark Batur. Mereka menilai langkah ini sebagai sebuah keberanian administratif yang sudah lama dinantikan untuk menata kawasan.
Putu Diyan, selaku Pengelola Geopark Batur, menyatakan komitmen untuk membangun Kintamani berbasis bentang alam. Hal ini diyakini akan menjadi tonggak harapan baru bagi pariwisata Bali yang lebih tertata dan edukatif.
Rangkaian kegiatan ini diproyeksikan berjalan secara bertahap hingga Oktober 2026. Sinergi ini diharapkan mampu menciptakan keseimbangan antara perlindungan alam, kepastian hukum, dan kesejahteraan masyarakat lokal.
– Advertisement –