Indonesia Segera Miliki Teleskop Terbesar di Asia Tenggara di Gunung Timau

HOLOPIS.COM, KUPANG – Indonesia bersiap mengukuhkan posisinya di peta astronomi dunia dengan kehadiran Observatorium Nasional Timau yang terletak di lereng Gunung Timau, Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Fasilitas ini diproyeksikan menjadi pusat pengamatan antariksa paling maju sekaligus yang terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Pembangunannya dipastikan melampaui kemampuan fasilitas serupa yang saat ini dimiliki oleh negara-negara tetangga di regional tersebut.

Keunikan utama dari observatorium ini terletak pada spesifikasi teknis teleskop optiknya yang memiliki diameter cermin sebesar 380 cm.

– Advertisement –

Ukuran ini hampir dua kali lipat lebih besar dibandingkan teleskop terbesar di Thailand saat ini yang hanya berdiameter 200 cm.

Lokasinya yang berada di dekat lintang khatulistiwa juga menjadikan kawasan ini sebagai titik strategis bagi para peneliti antariksa.

Posisi tersebut memungkinkan pengamatan ke belahan langit utara dan selatan secara bersamaan dari satu titik lokasi yang sama.

Kepala Pusat Riset Antariksa BRIN, Dr. Emanuel Sungging Mumpuni, menegaskan keunggulan fasilitas kebanggaan nasional tersebut saat dikonfirmasi media pada Minggu (10/5/2026).

Ia membenarkan bahwa secara optik, teleskop ini akan menjadi yang paling masif di regional ini. “Rencananya begitu, secara optik berukuran diameter 380 cm, saat ini yang di Thailand berdiameter 200 cm,” kata Emanuel.

Selain teleskop optik raksasa, kawasan ini juga akan dilengkapi dengan instrumen canggih lainnya seperti teleskop radio yang masih dalam tahap pengembangan.

Terdapat pula magnetometer serta berbagai sensor kecil lainnya untuk mendukung riset keantariksaan global secara komprehensif.

Hingga saat ini, progres pembangunan fisik teleskop utama dilaporkan telah mencapai angka 95 persen dan hanya menyisakan tahap penyelesaian akhir.

Ketua BRIN, Arif Hidayat, menekankan bahwa penyelesaian proyek ini menjadi prioritas nasional karena keterkaitannya dengan ekosistem antariksa yang lebih luas, termasuk rencana pembangunan bandar antariksa di Biak, Papua.

“Kami ingin teleskop ini segera dirampungkan dan beroperasi penuh, karena akan menjadi fasilitas strategis bagi penguatan riset antariksa Indonesia,” ujar Arif dalam keterangannya.

Pemilihan lereng Gunung Timau didasari pada kondisi geografis unik, di mana kawasan Kupang memiliki musim kemarau panjang dan curah hujan sangat rendah.

Kondisi langit yang bersih dari polusi cahaya karena jauh dari pemukiman penduduk menjadikannya laboratorium alam yang sempurna bagi para astronom.

Meskipun teknologi di dalamnya hampir rampung, pihak BRIN masih terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan penguatan infrastruktur pendukung.

Akses jalan menuju lokasi perlu diperkuat guna mendukung mobilisasi peneliti serta pengembangan potensi sektor wisata sains di masa depan.

Mengenai jadwal resmi operasional bagi publik, BRIN meminta masyarakat untuk tetap memantau pengumuman resmi dari pimpinan lembaga dalam waktu dekat.

– Advertisement –

Leave a Comment