HOLOPIS.COM, JAKARTA – Memasuki awal Mei 2026, harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia belum menunjukkan perubahan. Di tengah fluktuasi harga energi global, kondisi ini membuat publik menyoroti stabilitas harga, terutama untuk BBM jenis Pertamax.
BBM jenis Pertamax selama ini jadi konsumsi utama masyarakat kelas menengah. Merujuk data terbaru dari PT Pertamina Patra Niaga, harga BBM per 1 Mei 2026 masih mengacu pada penyesuaian terakhir yang diumumkan pada 18 April lalu.
– Advertisement –
Dari data itu, Pertamax masih tetap bertahan Rp12.300 per liter. Tidak adanya perubahan ini membuat Pertamax menjadi acuan utama di tengah naiknya beberapa BBM nonsubsidi sebelumnya.
Pertamax sebelumnya jadi sorotan karena masih berpotensi naik di tengah dinamika geopolitik dunia seperti konflik Iran vs AS-Israel.
– Advertisement –
Sementara itu, produk BBM dengan spesifikasi lebih tinggi tetap berada di level harga yang relatif mahal. BBM non subsidi itu sudah dinaikkan Pertamina pada 18 April 2026.
Berikut deretan harga BBM non subsidi yakni Pertamax Turbo Rp19.400 per liter; Dexlite Rp23.600 per liter; Pertamina Dex Rp23.900 per liter.
Harga tersebut masih mengikuti penyesuaian dan belum mengalami perubahan hingga awal Mei.
BBM Subsidi Tetap
Di sisi lain, BBM bersubsidi tidak mengalami perubahan harga. Pemerintah dan Pertamina masih mempertahankan tarif demi menjaga daya beli masyarakat. Rinciannya yakni Pertalite Rp10.000 per liter; Solar subsidi Rp6.800 per liter
Langkah Pemerintah yak menaikkan BBM bersubdisi dinilai sebagai upaya menjaga stabilitas ekonomi domestik, terutama di tengah ketidakpastian global.
Meski harga nasional terlihat stagnan, konsumen di berbagai daerah tetap bisa menemukan perbedaan harga. Hal ini dipengaruhi oleh kebijakan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) yang ditetapkan oleh masing-masing pemerintah daerah.
Dengan kondisi ini, harga Pertamax dan BBM lainnya bisa sedikit lebih tinggi atau rendah tergantung wilayah.
Stabilnya harga Pertamax di awal Mei menjadi perhatian karena mencerminkan strategi penahanan harga di tengah tren kenaikan sebelumnya. Namun, publik masih menunggu apakah kondisi ini akan bertahan atau justru berubah dalam waktu dekat.
– Advertisement –