Viral Bocah di Bandung Barat Punya Kebiasaan Makan Rumput dan Daun – jabarekspres.com

JABAR EKSPRES – Sebuah video viral yang memperlihatkan seorang anak memakan rumput dan dedaunan di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, menyita perhatian publik.

Rekaman tersebut dengan cepat beredar di berbagai platform media sosial dan memicu keprihatinan dari banyak pihak.

Dalam video berdurasi singkat itu, terlihat seorang anak berada di area kebun sambil memakan dedaunan.

Baca Juga:PLN Icon Plus Apresiasi Kepemimpinan Lewat Best 50 CEO & Best COO Awards 2026Video Viral Diduga Remaja Batang Hebohkan Media Sosial, Polisi Selidiki Penyebar Konten dan Link Palsu

Aksi tersebut langsung memancing beragam reaksi warganet, mulai dari rasa iba hingga kekhawatiran terhadap kondisi sang anak.

Belakangan diketahui, anak dalam video tersebut berinisial MR (11), warga Desa Gadobangkong, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat.

MR, tinggal bersama ayah dan neneknya. Berdasarkan keterangan keluarga, MR merupakan anak dengan kondisi disabilitas intelektual serta mengalami gangguan bicara (tunawicara).

Ayahnya, Asep Setiawan, mengungkapkan bahwa kebiasaan memakan rumput sudah terjadi sejak anaknya berusia sekitar empat tahun.

Upaya Keluarga dan Tantangan yang Dihadapi

Pihak keluarga sebenarnya telah berusaha menghentikan kebiasaan tersebut.

Namun, setiap kali dilarang, Kiki justru menunjukkan reaksi emosional yang sulit dikendalikan.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga, terutama dalam memberikan pendampingan yang tepat sesuai kebutuhan anak.

Baca Juga:Cara Download FF Beta 2026 Resmi Anti GagalMengenal BBM Bobibos, Bahan Bakar Baru Buatan RI yang Siap Diuji ESDM

Menanggapi viralnya kasus ini, Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, langsung mengambil langkah cepat.

Ia menginstruksikan dinas terkait, mulai dari Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, hingga aparat desa setempat, untuk memberikan pendampingan intensif kepada Kiki.

Pemerintah daerah juga memastikan bahwa anak tersebut akan mendapatkan akses pendidikan yang layak, termasuk kemungkinan difasilitasi untuk bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) sesuai kebutuhannya.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa di balik sebuah video viral, sering kali terdapat persoalan sosial yang lebih dalam.

Kondisi anak dengan kebutuhan khusus memerlukan perhatian, pendampingan, dan penanganan yang berkelanjutan, bukan sekadar respons sesaat saat kasus menjadi ramai.

Bupati juga menegaskan bahwa kejadian seperti ini seharusnya bisa terdeteksi lebih awal tanpa harus menunggu viral di media sosial.

Ia mendorong seluruh pihak, mulai dari pemerintah hingga masyarakat, untuk lebih proaktif dalam memperhatikan warga yang membutuhkan bantuan.

Leave a Comment