Digusur Tanpa Kepastian, Jerit Warga Situ Ciburuy di Tengah Janji Relokasi – jabarekspres.com

Digusur Tanpa Kepastian, Jerit Warga Situ Ciburuy di Tengah Janji Relokasi – jabarekspres.com

JABAR EKSPRES – Air mata Yoyoh (69) jatuh tanpa suara di tepian Situ Ciburuy. Rumah yang ia huni sejak kecil, tempat ia tumbuh, berkeluarga, dan menua, kini hanya tinggal menunggu waktu untuk dibongkar.

Tak ada yang benar-benar siap kehilangan rumahnya sendiri terlebih ketika rumah itu adalah satu-satunya dunia yang pernah ia kenal. Di sudut-sudut dinding yang mulai rapuh, tersimpan cerita masa kecil, tawa anak-anaknya, hingga sunyi hari tua yang kini terasa semakin asing.

Empat kali surat pemberitahuan pembongkaran datang. Empat kali pula harapan itu runtuh dan kembali dipungut. Tahun lalu, rencana itu sempat ditunda memberi jeda yang sempat disalahartikan sebagai kesempatan untuk bertahan. Namun kini, kepastian itu datang lagi, lebih tegas, lebih dekat, dan tak terhindarkan.

Baca Juga:Hujan Deras Picu Pergerakan Tanah di Bojong Koneng Kabupaten Bogor, BPBD: Akses Jalan Masih Bisa DilaluiKDS Perintahkan Perbaikan Cepat Jalan Amblas di Nanjung, Target Mulai Pekan Depan

“Tahun ini katanya akan dibongkar. Saya tidak tahu nanti harus tinggal di mana,” ucap Yoyoh, suaranya nyaris hilang ditelan angin dan genangan kenangan.

Di dalam rumah itu, ia tidak sendiri. Dua kepala keluarga hidup berdampingan, berbagi ruang sempit yang justru terasa luas karena dipenuhi kebersamaan. Namun dalam daftar penerima kompensasi, hanya satu yang diakui. Sisanya seperti tak pernah ada.

“Di rumah ini ada dua KK, tapi yang dapat hanya satu. Anak saya tidak dapat,” katanya, lirih.

Kompensasi memang diberikan. Namun bagi sebagian warga, angka itu seperti sesuatu yang jauh tak jelas, tak utuh dipahami, dan terasa tak cukup untuk menggantikan kehilangan yang begitu besar.

“Kompensasi sudah ada, tapi saya tidak tahu nominalnya berapa,” ungkapnya.

Yang mereka hadapi bukan sekadar pindah rumah. Ini tentang bagaimana memulai kembali hidup di usia yang tak lagi memberi banyak ruang untuk mencoba. Tentang bagaimana membayar sewa, memindahkan barang, dan bertahan di tengah ketidakpastian yang menggantung tanpa batas waktu yang jelas.

“Saya tidak melarang kalau memang untuk negara, silakan. Tapi tolong dibereskan dulu janji relokasi bagi warga yang kehilangan tempat tinggal,” tuturnya.

Baca Juga:KPAI : Anak Luka Bakar di Tasikmalaya Alami Trauma BeratMomentum Kartini 2026: Pertamina Perkuat UMKM Naik Kelas Lewat Inovasi, Ketahanan, dan Akses Pasar

Di bagian lain kawasan Situ Ciburuy, Dede (65) menjalani babak hidup yang berbeda, tapi dengan luka yang serupa. Warung kecilnya telah lebih dulu rata dengan tanah membawa pergi sumber penghasilan yang selama ini menopang hidupnya.

Leave a Comment