
MALAM itu, udara sejuk seusai salat Isya masih menyelimuti Masjid Al-Falaq di Jakarta. Seorang remaja marbot tengah merapikan tikar salat, menyapu lantai, lalu menutup pintu masjid dengan hati-hati. Lapar menggigit perut, ia melangkah pelan menuju gerobak mie ayam “Pak Yanto” yang biasa mangkal di belakang masjid.
Baru saja menyantap semangkuk mie panas, tiba-tiba seorang tentara datang. Makan dengan lahap, lalu bangkit tanpa membayar sepeser pun. Pak Yanto menagih dengan sopan. Yang terjadi selanjutnya seperti adegan yang tak terlupakan. Sang tentara mencabut sangkur dan menancapkannya keras di gerobak mie ayam.
Suasana langsung hening. Remaja itu terpaku, jantungnya berdegup kencang. Dalam hati kecilnya yang masih polos, ia berdoa sambil mengucap istigfar berulang-ulang. “Ya Allah, mudah-mudahan kelak aku bisa menjadi tentara… tapi tentara yang berbeda. Tentara yang mengayomi, melindungi, dan menolong rakyat, bukan menyakiti,” doanya.
Baca Juga:Wawan Cobra, Senior Legendaris Menwa Jabar Berpulang ke RahmatullahRUU Migas Digodok Buru-Buru, PWYP: Prosedur Cacat & Tak Selaras Transisi Energi
Kini, lebih dari lima dekade kemudian, doa polos anak kampung itu telah terkabul jauh melampaui harapan. Mayor Jenderal TNI Kosasih, S.E., M.M., Panglima Kodam III/Siliwangi ke-47, duduk tenang di ruang rapat Makodam Siliwangi, Bandung, Jumat (24/4/2026). Saat berbincang dengan awak media, ia masih mengingat jelas peristiwa malam itu. “Itu yang membekas sampai hari ini,” katanya pelan, suaranya penuh kesan.
Remaja itu bernama Kosasih. Lahir pada 2 April 1971 di Pandeglang, Banten, dari pasangan Ustaz H. Jufran Efendi (almarhum) dan Hj. Siti Khadijah (almarhumah). Ia anak keempat dari enam bersaudara. Orang tuanya berharap besar: kelak menjadi ustadz dan melanjutkan kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta.
Nama “Kosasih” sendiri diabadikan dari R.A. Kosasih, Pangdam Siliwangi periode 1958–1960-seorang perwira berwibawa, merakyat, dan mudah bergaul tanpa sekat. Doa dan harapan orang tua itu kini menjadi kenyataan yang indah. Kecilnya adalah anak desa sejati di Pandeglang. Bermain petak umpet di sawah, mandi dan berenang di sungai, memanjat pohon, hingga mengumpulkan pasir untuk dijual demi sesuap nasi tambahan.