
JABAR EKSPRES – Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara tengah mengincar peluang besar dari kerja sama energi terbarukan dengan Singapura yang nilainya diperkirakan mencapai 30 miliar dolar AS atau sekitar Rp518 triliun.
Proyek ini dinilai bukan sekadar ekspor listrik hijau, tetapi juga berpotensi menjadi penggerak industri energi domestik.
Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, mengungkapkan bahwa minat investor terhadap proyek ini sangat tinggi, terutama karena skalanya yang ambisius.
Baca Juga:Polisi Gerebek Rumah di Cileungsi yang Diduga Penampungan PMI Ilegal, 2 Korban DiselamatkanSiswi SMP Tewas Terlindas Truk di Rumpin Bogor, 3 Korban Lainnya Luka-Luka
“Kami akan melaksanakan dan meninjau ekspor energi untuk Singapura, dan Indonesia dalam hal (proyek) panel surya, yang kemungkinan akan menjadi proyek terbesar di ASEAN,” kata Pandu dikutip dari ANTARA, Jumat (24/4).
Proyek tersebut mencakup pembangunan pembangkit listrik tenaga surya hingga jaringan transmisi lintas negara yang menghubungkan Indonesia dengan Singapura.
“Kami (Danantara) akan terlibat dan juga membangun jalur transmisi baik untuk Singapura maupun bagi negara kita sendiri. Proyek tersebut setidaknya akan bernilai mendekati 30 miliar dolar AS,” ujarnya.
Meskipun begitu, Pandu mengatakan untuk detail teknis dan skema kerja sama masih dalam tahap pembahasan lebih lanjut, mengingat sejumlah perusahaan swasta telah lebih dulu menjalin kesepakatan dengan otoritas Singapura.
Ia juga menyebut proyek ini merupakan kelanjutan dari komitmen pengembangan proyek panel surya yang sebelumnya dibahas dalam ajang Indonesia Sustainability Forum (ISF).
“Karena keinginannya (kerja sama RI-Singapura) itu juga bisa membawa banyak value ke Indonesia, dan kita kan juga nanti harus bikin solar panel itu. Nanti juga kita pasti produksi buat Indonesia juga. Jadi banyak nilai tambah lah,” jelasnya.