HOLOPIS.COM, JAKARTA – Di saat dunia beradu cepat menciptakan kota masa depan yang berkelanjutan, Indonesia mengirimkan “pasukan elite” inovasinya ke garis depan.
Melalui payung besar Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) dan KUMPUL, empat startup nasional terpilih secara resmi dilepas untuk menginvasi ajang teknologi paling bergengsi di Asia: Sustainable High-City Technology (SusHi Tech) Tokyo 2026.
– Advertisement –
Perjalanan ini bukan sekadar kunjungan kerja biasa. Ini adalah manifestasi dari misi “BEKUP Global Scale-Up” yang dirancang untuk membuktikan bahwa otak-otak kreatif Indonesia mampu menciptakan solusi yang melampaui batas geografis dan standar industri global.
Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, memandang delegasi ini sebagai ujung tombak diplomasi ekonomi digital baru pasca-kunjungan Presiden ke Jepang pada Maret lalu.
– Advertisement –
“Kita tidak hanya membawa nama bangsa, tapi membawa solusi konkret di bidang ekonomi digital, semikonduktor, hingga AI. Partisipasi ini adalah langkah taktis untuk menjaring komitmen investasi nyata—mulai dari MoU hingga LoI yang berorientasi pada masa depan,” tegas Menteri Riefky dalam pembekalan di Jakarta.
Empat nama yang diberangkatkan merepresentasikan wajah baru ekonomi kreatif Indonesia yang berbasis teknologi dan keberlanjutan:
BELL LIVING LAB: Mendobrak batas material tradisional dengan menyulap ampas kopi menjadi biomaterial premium. Mereka adalah jawaban atas kebutuhan industri fashion dan furnitur dunia yang haus akan keberlanjutan tanpa mengorbankan estetika.
GAPAI: Mengubah narasi tenaga kerja migran dengan teknologi. Melalui platform HR Tech berbasis transparansi, mereka menjembatani talenta terbaik Indonesia ke pasar kerja global secara legal dan terhormat.
IJO: Sebuah persembahan dari samudera Indonesia. Dengan memanfaatkan rumput laut, mereka menciptakan pupuk biofertilitas yang menjadi “benteng” pertanian global dalam menghadapi serangan perubahan iklim.
SPUN: Sang penghancur sekat birokrasi. Mengandalkan infrastruktur AI, mereka mengubah proses visa yang membosankan di Asia Tenggara menjadi pengalaman digital yang instan dan tanpa celah.
Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi, Muhammad Neil El Himam, memasang standar tinggi bagi para “samurai” digital ini. Ambisinya jelas: mengubah pertemuan bisnis menjadi transaksi bernilai jutaan dolar.
“Kami tidak datang untuk sekadar mengisi stan. Targetnya adalah 20 hingga 32 pertemuan bisnis yang tajam, dengan proyeksi nilai transaksi mencapai USD 1 hingga 5 juta. Ini adalah momentum emas untuk meningkatkan visibilitas Indonesia di peta inovasi dunia,” papar Neil.
Senada dengan itu, Faye Wongso dari KUMPUL.ID menekankan bahwa Tokyo akan menjadi gerbang pembuka akses pasar yang lebih luas. “Kami ingin mereka pulang membawa bukan hanya kartu nama, tapi kemitraan strategis dan investasi untuk akselerasi bisnis mereka,” tambahnya.
Dijadwalkan terbang pada 26 April 2026, keempat startup ini akan berdiri sejajar dengan 700 inovator dari 100 negara. Di tengah riuh rendah kemajuan teknologi di Tokyo, Indonesia siap berteriak lantang bahwa inovasi “Merah Putih” adalah kunci masa depan kota berkelanjutan dunia.
– Advertisement –