
JABAR EKSPRES – Lonjakan harga plastik yang masih belum terkendali berdampak pada berbagai sektor, termasuk kenaikan harga pangan. Merespons hal itu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyadari bahwa pemerintah harus segera bergerak untuk mencari bahan baku plastik.
Dengan harapan dapat menekan dampak kenaikan biaya terhadap harga pangan seperti beras dan gula nasional domestik. Itu disampaikan Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa kepada wartawan di Jakarta, Rabu.
Menurutnya, saat ini pemerintah telah menentukan langkah pertama menyikapi dampak lonjakan harga plastik terhadap sektor pangan. “Pemerintah tidak diam, tidak menunggu, tapi sedang mencari upaya-upaya tersebut. Mudah-mudahan dalam waktu dekat, relatif problem kekurangan pasokan bahan baku plastik ini bisa diselesaikan dengan baik,” ujarnya, dikutip Kamis (23/4/2026).
Baca Juga:Bahan Bakar B50 Berlaku di Semua Sektor Mulai 1 Juli 2026Tolak Tawaran Pinjaman IMF dan Bank Dunia, Purbaya: Belum Butuh!
Kemudian sebagai tindak lanjut, kata dia, koordinasi penanganan persoalan tersebut dipercayakan kepada Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian.
Hal itu dilakukan sebagai upaya mempercepat pencarian sumber pasokan alternatif yang dapat menjaga stabilitas harga pangan nasional.
“Kita percayakan dulu kepada teman-teman di Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian juga,” kata dia.
Tak hanya pemerintah, lanjut Ketut, para pelaku usaha yang bergerak sebagai produsen plastik juga bergerak beriringan untuk memastikan ketersediaan bahan baku plastik. Kemungkinannya memang menyasar peluang ke negara produsen minyak bumi.
“Semua bergerak, pelaku usaha kan tidak diam, dia akan mencari dan sudah akan berusaha mencari peluang-peluang tadi. Apakah dari Rusia atau negara lain selain Timur Tengah. Produsen-produsen minyak itu, itulah penghasil sumber-sumber pasokan plastik sebenarnya,” beber Ketut.
Lebih lanjut ia menjelaskan kenaikan harga bahan baku plastik berdampak pada biaya produksi pelaku usaha pangan, terutama komoditas beras dan gula.
Ia menyebut pihaknya telah melakukan sejumlah rapat dengan para pemangku kepentingan, termasuk pelaku usaha beras, gula, dan pangan kemasan, untuk membahas dampak gejolak geopolitik di Timur Tengah terhadap pasokan plastik.
Baca Juga:Taj Yasin Lepas Kloter Pertama Haji 2026, Jateng Berangkatkan 34.122 Jemaah dari Embarkasi SoloRSUD Cicalengka Gelar Donor Darah dan Resmikan NICU di HUT ke-385 Kabupaten Bandung
Berdasarkan perhitungan sementara, dampak terhadap harga beras diperkirakan mencapai sekitar Rp300 per kilogram, sementara pada gula lebih kecil, yakni sekitar Rp100 hingga Rp150 per kilogram, meski masih bersifat perhitungan sementara.