
JABAR EKSPRES – Kenaikan harga LPG nonsubsidi dan BBM kembali memunculkan persoalan lama: siapa yang paling terbebani? Alih-alih hanya melihat kelompok miskin sebagai pihak paling rentan.
Direktur Energy Shift Institute, Putra Adhiguna, justru menilai kelas menengah kini berada di posisi paling tertekan.
Kelompok ini sering kali luput dari perlindungan kebijakan. Mereka tidak lagi menerima subsidi besar seperti masyarakat berpenghasilan rendah, namun tetap harus menanggung lonjakan harga energi yang signifikan.
Baca Juga:RI dan Polandia Jalin Kerja Sama, Perkuat Aliansi Pertanian di Tengah Ketidakpastian Global Terhimpit Ekonomi, Wanita di Singaparna Nekat Rampas Gelang Emas Tetangganya
Dalam kondisi ini, daya beli kelas menengah tergerus secara perlahan tanpa bantalan bantuan yang memadai.
“Subsidi tunai langsung adalah salah satu solusi terbaik mengingat rumah tangga miskin mendapatkan subsidi lebih rendah disbanding golongan yang lebih mampu, kendali distribusi subsidi juga penting,” ujarnya.
Menurut Putra, solusi yang lebih relevan bukan sekadar menambah stimulus baru, melainkan memperbaiki cara bantuan disalurkan. Ia menyoroti pentingnya subsidi tunai langsung sebagai pendekatan yang lebih adil.
Skema ini dinilai mampu menjangkau masyarakat yang benar-benar membutuhkan, sekaligus mengurangi kebocoran yang selama ini kerap terjadi dalam distribusi subsidi energi.
“Dalam distribusi subsidi energi, kuncinya adalah konsistensi. Sudah berulangkali usaha kendali maju mundur karena tarikan politik. Saat ini harus bisa dipastikan jangan lenyap proyek sesaat, selagi terus diperbaiki,” kata Putra.
Putra menegaskan bahwa pengendalian distribusi harus menjadi prioritas. Pemanfaatan teknologi, seperti sistem biometrik, dapat membantu memastikan bantuan tepat sasaran. Namun, tanpa komitmen yang konsisten, inovasi ini berisiko hanya menjadi proyek sementara tanpa dampak jangka panjang.
“Tarik ulur subsidi kerap terjadi karena rakyat biasanya hanya mendapat bebannya selagi belum nendapat bantuan langsungnya, sehingga perlu diorkestrasi dengan lebih baik,” tuturnya.
Baca Juga:Pergeseran Tanah Terjang Babakan Madang, 7 Rumah Rusak dan 28 Warga MengungsiAhmad Luthfi Terima Penghargaan Program Pengelolaan Sampah dari Kemendes PDT
Di sisi lain, dinamika global juga memperkeruh situasi. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi mendorong kenaikan harga energi dunia.
Dampaknya tidak berhenti pada sektor energi saja, tetapi bisa merambat ke berbagai kebutuhan lain menciptakan efek berantai yang semakin membebani masyarakat.
Dengan harga LPG 12 kg yang kini naik dari Rp192 ribu menjadi Rp228 ribu per tabung—kenaikan pertama sejak 2023—tantangan yang dihadapi pemerintah semakin kompleks.