
JABAR EKSPRES – Kenaikan harga elpiji nonsubsidi mulai menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat.
Sejumlah warga menilai kebijakan tersebut bisa memicu lonjakan permintaan terhadap gas bersubsidi ukuran 3 kilogram, yang berpotensi menyebabkan kelangkaan di pasaran.
Isu gas naik harga pun menjadi sorotan karena dikhawatirkan tidak hanya berdampak pada kebutuhan rumah tangga, tetapi juga mendorong kenaikan harga barang kebutuhan pokok lainnya.
Baca Juga:DJP Bakal Pungut PPN Jalan Tol Mulai 2028Brock Lesnar Pensiun usai Dikalahkan Oba Femi di WrestleMania 42
Warga Cemas Pengguna Beralih ke Gas 3 Kg
Dimas (28), warga Kebon Jeruk, Jakarta Barat, mengaku khawatir kenaikan harga elpiji nonsubsidi 12 kg dan 5,5 kg akan membuat banyak masyarakat beralih ke gas subsidi 3 kg.
Menurutnya, jika perpindahan pengguna terjadi secara masif, stok gas melon bisa semakin sulit ditemukan.
“Yang dikhawatirkan nanti kalau tabung 12 kg sama 5,5 kg naik, yang 3 kg subsidi malah jadi langka. Bisa saja banyak yang balik lagi pakai gas subsidi,” ujarnya.
Kekhawatiran tersebut dinilai wajar, mengingat gas 3 kg selama ini memang menjadi pilihan utama masyarakat berpenghasilan rendah dan pelaku usaha kecil.
Praktik Curang Pengoplosan Ikut Disorot
Selain soal kelangkaan, masyarakat juga menyoroti dugaan praktik curang di lapangan, seperti pengoplosan isi gas subsidi ke tabung nonsubsidi demi meraup keuntungan lebih besar.
Dimas mengaku baru melihat maraknya pembahasan soal modus tersebut di media sosial. Ia menilai pengawasan distribusi gas subsidi masih perlu diperketat agar tidak merugikan masyarakat.
“Sekarang saja sudah susah cari gas 3 kg, apalagi kalau nanti permintaan makin tinggi,” katanya.
Baca Juga:KPK Bongkar 8 Potensi Korupsi di Program Makan BergiziPlatform Investasi Saham Amerika Ramah Untuk Pemula
Praktik semacam ini dikhawatirkan semakin marak jika selisih harga antara gas subsidi dan nonsubsidi makin jauh.
Di sisi lain, kenaikan harga elpiji nonsubsidi juga dirasakan langsung para ibu rumah tangga.
Vivi, pengguna gas 12 kg dan 5,5 kg, mengaku tetap harus membeli karena gas merupakan kebutuhan utama sehari-hari.
Meski mengeluh, ia menyebut tidak berniat beralih ke gas 3 kg karena menyadari produk subsidi tersebut diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu.
“Kalau ibu-ibu pasti ngeluh, tapi mau bagaimana lagi, tetap harus beli karena memang butuh,” ujarnya.