HOLOPIS.COM, JAKARTA – Perang yang berlangsung di kawasan Timur Tengah membawa petaka bagi sektor energi. Pasalnya, biaya perbaikan dan pemulihan infrastruktur energi yang rusak akibat perang yang pecah usai serangan Israel ke Iran mencapai USD58 miliar, atau sekitar Rp990 triliun.
Menurut firma konsultan energi Rystad Energy yang dikutip Holopis.com dari Anadolu, Minggu (19/4/2026), fasilitas minyak dan gas menjadi menyumbang hingga USD50 miliar dari total biaya yang mencapai ratusan triliun rupiah tersebut.
– Advertisement –
“Pekerjaan perbaikan tidak menciptakan kapasitas baru; itu mengalihkan kapasitas yang ada,” kata Analis Senior Rystad Energy Karan Satwani, dikutip Holopis.com, Minggu (19/4/2026).
Perkiraan biaya perbaikan dan pemulihan infrastruktur rusak akibat perang tersebut meningkat tajam dari proyeksi awal Rystad pada tiga minggu lalu, yakni sebesar USD25 miliar.
– Advertisement –
Perusahaan tersebut mengatakan kendala utama dalam pemulihan bukanlah pembiayaan, tetapi akses ke peralatan yang membutuhkan waktu pengiriman lama, kontraktor spesialis, dan jaringan logistik, dengan jangka waktu pemulihan yang berbeda di berbagai negara dan jenis aset.
Aset penyulingan dan petrokimia hilir menyumbang bagian terbesar dari perkiraan biaya perbaikan, diikuti oleh fasilitas hulu dan tengah. Rystad mengatakan bahwa Iran dan Qatar kemungkinan akan menanggung beban terberat.
– Advertisement –
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang.
Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.