HOLOPIS.COM, JAKARTA – Sedikitnya 2.042 orang dilaporkan tewas dan 785 lainnya mengalami luka akibat 214 serangan terhadap fasilitas layanan kesehatan di Sudan sejak konflik pecah hampir tiga tahun lalu. Data tersebut disampaikan oleh dua badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Sabtu (4/4).
Dalam pernyataan bersama, World Health Organization dan United Nations Children’s Fund mengungkap bahwa pada kuartal pertama tahun ini saja tercatat 184 korban jiwa dan 295 korban luka. Kedua lembaga tersebut juga menyampaikan kekhawatiran atas meningkatnya intensitas serta frekuensi serangan terhadap fasilitas kesehatan di wilayah terdampak konflik.
– Advertisement –
“Serangan-serangan ini semakin membatasi akses ke layanan kesehatan pada saat layanan tersebut paling dibutuhkan,” ujar Shible Sahbani, dikutip Holopis.com, Sabtu (4/4).
Ia juga menekankan pentingnya perlindungan terhadap pasien serta tenaga medis yang berada di garis depan penanganan krisis. Sementara itu, perwakilan UNICEF, Sheldon Yett, menyoroti dampak serius terhadap anak-anak akibat serangan tersebut.
– Advertisement –
“Serangan terhadap rumah sakit merupakan pelanggaran serius terhadap hak-hak anak,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kondisi ini membuat anak-anak kehilangan akses terhadap perlindungan dan layanan penting pada masa yang sangat rentan.
WHO dan UNICEF menegaskan bahwa serangan terhadap fasilitas kesehatan, tenaga medis, serta pasien merupakan pelanggaran hukum humaniter internasional. Situasi ini juga dinilai semakin memperparah krisis kemanusiaan yang telah berlangsung di Sudan.
Kedua lembaga tersebut menyerukan kepada semua pihak yang terlibat konflik untuk menghormati serta melindungi layanan kesehatan. Mereka juga menekankan pentingnya menjamin keselamatan warga sipil dan pekerja kemanusiaan, serta memastikan akses terhadap layanan esensial tetap terbuka.
Sekadar informasi, konflik antara Sudanese Armed Forces dan Rapid Support Forces yang pecah sejak pertengahan April 2023 telah menewaskan puluhan ribu orang. Konflik tersebut juga menyebabkan jutaan warga terpaksa mengungsi dan memperburuk kondisi kemanusiaan di negara tersebut.
– Advertisement –